Seni Menerjemahkan Terminologi Hukum: Antara Akurasi dan Konteks Budaya

Bagi seorang penerjemah profesional, mengalihbahasakan dokumen bukan sekadar menukar kata dari Bahasa A ke Bahasa B. Tantangan terbesar seringkali muncul ketika berhadapan dengan nama lembaga, akronim birokrasi, atau istilah hukum yang tidak memiliki padanan langsung dalam budaya sasaran. Di Cevirmenler, kita memahami bahwa tugas penerjemah adalah menjadi jembatan pemahaman, bukan sekadar mesin kamus.

Penerjemahan hukum (legal translation) menuntut tingkat presisi yang ekstrem. Kesalahan kecil dalam menafsirkan fungsi sebuah institusi dapat mengubah makna keseluruhan teks, baik itu dalam laporan berita, dokumen pengadilan, atau naskah akademis.

Dilema Akronim dan Nama Lembaga Asing

Salah satu pertanyaan yang sering dihadapi penerjemah adalah: “Apakah nama lembaga ini harus diterjemahkan atau dibiarkan dalam bahasa aslinya?” Seringkali, strategi terbaik adalah membiarkan nama asli tetap ada (untuk rujukan hukum) dan memberikan terjemahan deskriptif dalam tanda kurung atau catatan kaki.

Sebagai contoh, ketika seorang penerjemah sedang mengerjakan dokumen berita atau laporan hukum yang berasal dari New York City, mereka mungkin menemukan referensi tentang badan pengawasan kepolisian. Istilah seperti nypd ccrb (Civilian Complaint Review Board) tidak bisa diterjemahkan begitu saja menjadi “Dewan Peninjau” tanpa menghilangkan konteks spesifiknya. Seorang penerjemah yang kompeten akan melakukan riset untuk memahami bahwa entitas ini adalah badan independen yang menangani keluhan sipil terhadap polisi, lalu memutuskan apakah akan menggunakan akronim aslinya atau memberikan penjelasan tambahan agar pembaca di negara lain memahami otoritas dan fungsi lembaga tersebut.

Riset Sebagai Senjata Utama Penerjemah

Kualitas seorang penerjemah seringkali ditentukan oleh kemampuan risetnya. Sebelum mengetik satu kata pun, kita harus memahami “siapa”, “apa”, dan “di mana” subjek teks tersebut berada.

Dalam kasus penerjemahan dokumen publik atau pemerintahan, memahami hierarki dan struktur organisasi negara asal sangatlah krusial. Tanpa pemahaman konteks sosial-politik, istilah teknis akan terdengar kaku atau bahkan menyesatkan bagi pembaca sasaran. Inilah sebabnya mengapa spesialisasi (seperti penerjemah tersumpah atau spesialis hukum) sangat dihargai di industri ini.

Tanggung Jawab Etis

Penerjemah memikul tanggung jawab etis untuk menjaga integritas pesan. Dalam konteks dokumen sensitif seperti laporan kepolisian atau putusan pengadilan, ambiguitas harus dihindari sebisa mungkin.

Menggunakan glosarium yang terverifikasi dan terus memperbarui wawasan tentang institusi global adalah bagian dari profesionalisme. Kita tidak hanya menerjemahkan bahasa; kita menerjemahkan sistem.

Kesimpulan

Menjadi penerjemah yang handal berarti menjadi pembelajar seumur hidup. Setiap dokumen baru membawa serta tantangan terminologi baru. Dengan menggabungkan keahlian linguistik yang kuat dengan ketekunan dalam melakukan riset konteks, kita memastikan bahwa tidak ada makna yang “hilang dalam terjemahan” (lost in translation).