Di Balik Layar Penerjemahan: Tips Praktis dan Kejutan Linguistik

Di Balik Layar Penerjemahan: Tips Praktis dan Kejutan Linguistik

Mengapa saya jatuh cinta pada kata-kata (dan salah terjemah juga)

Saya pernah mendapat pekerjaan menerjemahkan menu restoran dari bahasa Turki ke bahasa Indonesia. Satu kalimat: “ev yapımı reçel” saya terjemahkan jadi “selai buatan rumah”. Klien tersenyum, pelanggan pun puas. Tapi kemudian ada pesan dari koki: “Jangan gunakan ‘rumah’ karena kami tidak ingin dianggap rumahan; lebih tepat ‘buatan sendiri’.” Pelajaran pertama: kata yang benar bukan hanya soal leksikon, tapi citra, nuansa, dan konteks pemasaran. Saya belajar lebih memperhatikan register sejak hari itu. Sedikit kesalahan kecil bisa mengubah persepsi pembaca.

Apa saja trik praktis yang bekerja setiap hari?

Ini beberapa tips yang saya pakai berulang kali. Baca keseluruhan teks dulu. Jangan terjebak menerjemahkan kalimat per kalimat. Tanyakan pertanyaan kepada klien bila ada ambiguitas. Buat glosarium istilah khusus klien—ini menyelamatkan waktu ketika proyek panjang datang kembali. Gunakan alat bantu: CAT tools mempercepat kerja, tetapi jangan biarkan memori terjemahan menuntun Anda ke kesalahan berulang. Kalau ada idiom, cari padanan budaya, bukan terjemahan literal. Terakhir, selalu proofread keras-keras; saya sering menangkap ritme yang salah ketika membaca dengan lantang.

Saya masih suka terkejut oleh bahasa

Ada hal-hal di linguistik yang selalu membuat saya terpana. Misalnya, bahasa yang “mewajibkan” Anda memberi tahu dari mana informasi itu berasal — evidentiality. Di beberapa bahasa, Anda tidak boleh mengatakan sesuatu tanpa menandai apakah itu pengalaman langsung, kabar dari orang lain, atau asumsi. Atau fenomena “morpheme packing”: satu kata di bahasa lain bisa memuat informasi subjek, objek, waktu, dan mode yang dalam bahasa kita butuh beberapa kata. Itu tantangan tersendiri—bagaimana menyampaikan semua nuansa dalam target yang lebih ringkas? Kejutan lain: kata-kata yang tampak sederhana ternyata sarat budaya, seperti kata sapaan yang mengandung hierarki sosial. Penerjemah harus jadi detektif budaya.

Checklist cepat untuk hasil terjemahan yang lebih rapi

Berikut ritual saya sebelum mengirim naskah: 1) Periksa konsistensi istilah (termasuk angka dan satuan), 2) Pastikan nada cocok dengan audiens, 3) Lakukan QA khusus format—tanggal, alamat, unit, mata uang, 4) Cek proper nouns; jangan mengubah nama kecuali diminta, 5) Jalankan cepat machine translation untuk draf kasar bila deadline mepet, tapi selalu post-edit secara teliti. Saya juga menyisihkan waktu untuk “cooling down”: menutup file beberapa jam lalu membaca ulang. Mata segar sering menangkap inkonsistensi yang mata lelah lewatkan.

Abi atau Anda? Honorifik dan soal kesopanan

Saya ingat proyek dimana terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia harus memilih antara “Anda” formal dan “kamu” kasual. Keputusan itu berdampak pada seluruh teks. Di beberapa bahasa Asia, pilihan kata menghormati usia atau status; di Rusia, Anda punya opsi formal vs informal juga. Jadi, selain menerjemahkan kata, kita menerjemahkan relasi antarpenutur. Kesalahan memilih register bisa terasa seperti membuka pintu komunikasi yang salah.

Alat, sumber, dan komunitas yang membantu

Tidak semua jawaban ada di kamus. Saya kerap mencari forum khusus penerjemah dan perpustakaan terminologi. Kadang saya mengutip sumber lokal, kadang merujuk ke situs komunitas untuk diskusi nuansa. Kalau Anda ingin eksplor lebih jauh, saya beberapa kali menemukan rujukan berguna di cevirmenler untuk istilah spesifik dan diskusi antar penerjemah. Dan jangan remehkan peran proofreader asli bahasa tujuan—mereka bisa menangkap idiom dan ritme yang saya lewatkan.

Penutup: terjemahan itu seni dan teknik

Penerjemahan bukan sekadar mengganti kata. Ia soal menjembatani dunia: budaya, emosi, dan konteks. Ada teknik yang bisa dipelajari—CAT tools, glosarium, QA—dan kejutan linguistik yang mengingatkan kita ada lebih dari sekadar kosakata. Kalau Anda baru mulai, bersiaplah salah langkah. Kalau Anda sudah lama, bersiaplah terus belajar. Saya masih belajar setiap hari. Dan setiap teks baru selalu membawa pelajaran baru yang membuat pekerjaan ini tak pernah membosankan.